Semburat jingga
mulai terlihat di antara gumpalan awan. Langit masih sedikit kelabu. Suara
mesin kapal bercampur dengan deru angin. Bau asin air laut bercampur dengan bau
tumpukan ikan segar di kapal itu.
Masdi menghela napas,
untuk yang kesekian kali, berusaha menenangkan debar jantungnya. Ia menatap
titik hijau di depannya. Dalam duapuluh menit mereka akan sampai di pantai. Ia
punya waktu dua puluh menit untuk menemukan jalan keluar dari masalahnya,
sebelum sang masalah menemuinya di daratan.
Ia menghela napas
dan menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, lalu memakai topi yang sedari
tadi dipegangnya.
Masalahnya dimulai
semalam, ketika ia hendak melaut.
Tak biasanya, Isah datang ke pantai di larut malam. Masdi tersenyum
lebar dan memegang tangan Isah. Di luar dugaan, Isah menarik tangannya. Ia
tidak tersenyum sama sekali. Gadis itu membisikkan sesuatu ke telinganya lalu
berlari pergi. Masdi melotot dan mematung memandang sosok Isah di telan gelap.
Gadis itu meninggalkannya tanpa ia sempat mengatakan apa-apa. Tapi Masdi memang
tak tahu harus mengatakan apa. Tenggorokannya tercekat. Kakinya terasa lemas.
Ia berdiri mematung selama beberapa saat sampai teman-temannya meneriakinya
untuk naik ke kapal.
Di tengah
ombang-ambing kapal, Masdi merasa hidupnya jungkir balik. Ia masih tak percaya
akan apa yang dikatakan Isah. Semalaman ia berusaha melupakan masalahnya dan
berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Tapi sekarang titik hijau itu menjelma
sebesar bola kasti. Lima belas menit lagi.
Ia memejamkan mata
dan menghirup aroma laut sedalam-dalamnya, berharap dapat sedikit
menenangkannya. Tidak mungkin! Ia
berteriak dalam hati. Pasti ada kesalahan, pikirnya. Ia lalu membuka matanya
dan menatap lurus ke depan. Daratan terlihat semakin besar. Sepuluh menit lagi.
Masdi lalu menggelengkan kepalanya. Semburat jingga mulai merayap dan mewarnai
langit. Lima menit. Masdi menghela napas. Pasrah. Daratan. Dengan gontai ia
turun dan bersama beberapa temannya menarik perahu dan mengikatnya di dermaga
kecil.
Tidak mungkin,
batinnya.
Lalu kembali
helaan napas.
Tidak mungkin Isah
hamil.
Pasti ada yang
salah...
Masdi tahu betul
ia mandul.
Itu yang membuat
pernikahan sebelumnya kandas.
Lalu kembali
helaan napas.
*****