Minggu, 10 Juni 2012

#istory 3.Pak Kusno


Pagi perlahan mulai menyisih. Mentari mulai bersinar garang dan sepoi angin diam-diam mulai mundur. Siang mulai beranjak datang, seiring kebisingan jalan yang mulai riuh. Kicau burung tak lagi terdengar. Sepertinya nyanyian mereka hanya untuk sang Pagi.
Pak Kusno menuangkan kuah kuning ke piring berisi nasi. Lelaki paruh baya itu terlihat lebih tua dari usia yang sesungguhnya. Setelah menuangkan kecap dan sambal, ia memberikan nasi gulai itu ke seorang supir taksi yang biasa mangkal di sudut jalan, tempat Pak Kusno jualan.
Setiap pagi menjelang siang, nasi gulai Pak Kusno menjadi menu makan siang andalan para supir taksi dan para tukang ojek yang mangkal di sekitar jalan itu. Bukan  karena rasanya yang lezat, tapi lebih kepada harganya yang sesuai dengan kantung mereka. Lima ribu rupiah untuk nasi dan gulai potongan daging dan usus ayam (katanya) dan berharap dapat tahan sampai waktunya makan sore jam lima atau enam nanti.
Sambil menunggu para supir menghabiskan makanannya, Pak Kusno duduk di trotoar sambil merokok. Ia teringat percakapan semalam dengan Ningsih, anak semata wayangnya yang masih berumur enam tahun.
“Pak, Ningsih kok gak pernah ulang tahun?” Ningsih bertanya kepada bapaknya malam itu.
“Kenapa tiba-tiba Ningsih nanya itu?” tanya pak Kusno sambil membelai rambut anaknya. Sejak ditinggal mati istrinya dua tahun lalu, Ningsih adalah satu-satunya harta berharga pak Kusno. Ia rela melakukan apa saja untuk anak itu.
“Tadi siang Ningsih nonton sinetron di rumah Ayu. Ceritanya, anaknya ulang tahun terus dikasih kue tart yang ada lilinnya!” Ningsih bercerita dengan antusias. Setiap siang sehabis sekolah, ia memang selalu bermain ke rumah Ayu, tetangga sebelahnya, karena Ayu punya TV.
“Oooh..Ningsih mau kue tart?”
“Tapi Ningsih harus ulang tahun dulu kan pak?”
“Bapak lupa hari ulang tahun Ningsih…” pak Kusno menatap sendu anaknya, dengan sedikit rasa bersalah.
“Ya udah, besok Ningsih ulang tahun ya pak!” Ningsih mengusulkan dengan semangat.
Dan hari ini adalah hari ulang tahun Ningsih. Pak Kusno bertekad akan membelikan anaknya kue tart, kue ulang tahun. Tapi ia tak tahu harus beli dimana.
“Pak, kenapa hari ini gak semangat? Biasanya pak Kusno suka guyon!” seorang tukang ojek memberikan piringnya yang telah kosong sambil membayar makanannya.
“Le, tau gak dimana beli kue tart?” Pak Kusno bertanya.
“Ooh, kue ulang tahun ya? Beli di pasar aja pak, ada toko roti di situ. Jangan di mall ya, mahal!”
“Harganya berapa toh le?” pak Kusno bertanya.
“ Waduh, gak tau pak. Yaaah paling 150ribuan!” si tukang ojek menjawab sekenanya.
“150ribu ya…” diam-diam pak Kusno mulai berhitung. Itu berarti 30 piring nasi gulai. Sampai detik ini baru 10 piring.

Siang mulai meraja. Pak Kusno kembali berhitung, 18 piring. Masih 12 piring lagi. Tak sabar ia menanti. Jam makan siang akan berakhir satu jam lagi. Jam tiga sore, 25 piring. Pak Kusno memikul jualannya dan mulai berjalan. Tujuannya adalah sebuah SMP beberapa kilometer dari tempatnya berjualan.
Di depan SMP, anak-anak baru pulang sekolah. Pak Kusno tersenyum menanti penuh harap. Tak lama seorang bocah gendut membeli dagangannya, diikuti beberapa temannya. Dalam empat puluh menit, 7 piring berhasil dijual dan gulai Pak Kusno habis tak bersisa.
Kini ia harus bergegas ke toko roti di pasar. Sambil memikul dagangannya, pak Kusno berjalan dengan tergesa-gesa. Peluh membanjiri kening dan punggungnya. Pundaknya terasa sakit, karena jarak dari SMP ke pasar cukup jauh.
Sampai di pasar, ia menitipkan gerobak pikulnya ke tukang parkir dan bergegas masuk, mencari toko roti satu-satunya di pasar itu. Setelah beberapa menit  menyusuri labirin pasar, pak Kusno sampai di toko roti itu. Tutup. Ternyata toko roti tutup setiap jam empat sore setiap hari, demikian info dari tukang sendal di kios sebelah. Sekarang jam empat lebih duapuluh menit. Pak Kusno gontai. Kemana ia harus membeli kue tart untuk Ningsih?
Lalu ia teringat si tukang ojek bilang, jangan di mall, mahal. Ia pun nekat berlari ke mall yang tak jauh dari pasar inpres itu.
Di dalam mall, pak Kusno bertanya ke satpam di sana, dimana toko kue. Satpam menatapnya curiga, namun tetap menunjukkan arahnya. Pak Kusno bergegas dan sampailah ia, di sebuah kios kue. Di etalase kacanya pak Kusno bisa melihat berbagai jenis kue yang cantik-cantik.
“Saya mau ini mba!” pak Kusno menunjuk kue yang berwarna coklat dengan hiasan cherry di atasnya.
“Itu dua ratus ribu!” sang pelayan menjawab ketus sambil menatap pak Kusno dengan enggan.
“Oh..kalau yang ini?” kali ini Pak Kusno menujuk kue berwarna putih yang cantik.
“Itu dua ratus lima puluh ribu!” kali ini nada suara si pelayan makin ketus. Ia mulai tak sabar.
“Ohh..kalo…” belum selesai pak Kusno bicara, langsung dipotong oleh si pelayan,
“Yang laen sama harganya, malah ada yang tiga ratus ribu! Bapak bisa beli gak?”
“Uang saya cuma seratus enam puluh ribu mbak…” pak Kusno menjawab getir. Lalu hela napas. Ada segumpal sedih yang tercekat di kerongkongannya.
“Oh, kalo cuma segitu, dapetnya cuma ini!” sang pelayan mengambil sebuah kue berukuran kecil dari balik etalase. Kue itu berwarna coklat  tua dengan hiasan berwarna putih.
“ Iya saya mau itu!” pak Kusno mengangguk, matanya berbinar. Kue kecil itu cantik sekali, Ningsih pasti senang. Ia memberikan seluruh hasil jualannya hari itu. Sang pelayan membungkus kuenya dan cemberut menerima uang dari pak Kusno yang kumal, pecahan sepuluh ribu dan lima ribu.
Kini pak Kusno berjalan dengan hati gembira. Rasa lelah dan sakit di pundaknya hilang seketika. Ia tak sabar melihat reaksi Ningsih nanti! Tanpa sadar, ia tersenyum sepanjang jalan. Tapi senyumnya hilang ketika ia sampai di pasar. Tukang parkirnya telah berganti shift. Ia bertanya ke tukang parkir baru itu, dimana gerobak pikulnya. Tukang parkir mengangkat bahu acuh dan mengejar sebuah mobil yang mau parkir.
Pak Kusno panik. Ia bertanya ke semua tukang jualan yang bisa ia temui di pasar itu,  apakah ada yang melihat gerobak pikul nasi gulainya. Tak ada yang melihat, lebih banyak yang tak peduli. Ia mengitari pasar itu, nihil. Lelah, ia duduk di trotoar. Hilang sudah mata pencahariannya. Ia tak tahu besok harus makan apa. Ia menatap plastik kue di pangkuannya, terdiam beberapa saat.
Hari ini, Ningsih ulang tahun.


*****


Minggu, 03 Juni 2012

#istory 2.HERU


Lelah. 
Setelah menunggu hampir dua puluh menit di bawah terik mentari, akhirnya angkot biru 110 lewat juga. Heru bergegas masuk. Tak sampai tiga menit, Heru tertidur. Kepalanya miring ke kiri, menempel ke pundak seorang wanita tengah baya, yang tertidur juga.

Lelah.
Heru menghela napas sebelum dia terlelap. Hari yang panjang untuknya, tiap hari. Ia harus bangun pukul tiga pagi, membantu emak memasak nasi uduk, untuk dijual sebagai sarapan di pasar, dan beberapa bungkus untuk Heru jual ke teman-temannya. Nasi uduk, sambal, bawang goreng, tempe goreng, tahu goreng dan bihun goreng. Oh, tak lupa kerupuk. Bersama emak, Heru memasak semuanya. Terkadang Lela adiknya yang masih SD ikut membantu. Lela membuat adonan gorengan ditemani kantuk. Heru memarut kelapa dan mengiris daun bawang, sambil sesekali menguap. Emak akan mengiris bawang merah untuk bawang goreng. Ketika azan Subuh berkumandang, Heru dan Lela akan berhenti dan sholat, lalu bersiap-siap untuk sekolah. Emak yang menyelesaikan sisanya.

Lelah.
Di sekolah Heru harus menghadapi senior-seniornya yang suka semena-mena. Mereka sering memalak anak-anak kelas satu seperti Heru. Heru belajar dari emak untuk pasrah, ketika para kakak kelas menarik kerahnya, meminta uang jajannya. Heru berkata, tidak tiap hari ia diberi uang oleh emak. Tapi ia selalu bawa nasi uduk. Awal-awal harinya sebagai junior, para kakak kelas mengambil nasi uduknya dan membuangnya ke tempat sampah, lalu tertawa-tawa dan pergi. Minggu berikutnya, mereka makan nasi uduk buatan emak, selama seminggu, sambil memalak hasil jualan nasi uduk Heru. Minggu berikutnya, mereka mulai memaksa anak-anak lain untuk membeli nasi uduk Heru dan mamaksa Heru untuk bagi hasil. Heru setuju, tak ada ruginya, ia pikir.

Lelah.
Heru tahu, emak harus banting tulang karena Bapak pergi entah kemana sejak Heru masih kecil. emak tak pernah mau membahas Bapak. Heru tak pernah bertanya. Tapi ketika ia kecil, tetangga-tetangganya pernah bergunjing kalau Bapak main gila. Sampai beberapa tahun, Heru tak mengerti arti main gila. Ia berpikir Bapak main sesuatu sampai gila. Atau Bapak gila main sesuatu. Atau Bapak gila dan main. Atau… ah sudahlah. Heru berpikir Bapak gila. Mungkin karena itu Bapak tak bisa hidup bersama emak, Heru dan Lela. Mungkin karena itu emak tak pernah mau membahas tentang Bapak. Tapi memasuki SMP, lewat pelajaran Bahasa Indonesia, Heru akhirnya mengerti, main gila itu berarti selingkuh. Bapak selingkuh dengan wanita lain. Heru mengangguk-angguk. Berarti Bapak benar-benar gila, pikirnya. Ah sudahlah, buat apa memikirkan orang gila, pikir Heru.

Lelah.
Guru-guru di sekolah hobi sekali memberikan tugas dan ulangan. Setiap hari pasti ada tugas dari minimal 3 mata pelajaran. Seperti hari ini, Heru punya tugas Fisika, Kimia dan Sejarah. Besok ia akan ulangan Bahasa Inggris. Heru tak pernah mengerti mengapa bahasa Inggris harus ribet mengenai waktu. Kenapa tak bisa seperti bahasa Indonesia yang tinggal menambahkan kemarin, dulu atau besok dan tahun depan, tanpa mengubah kata kerja?  Sambil menunggu angkot tadi, Heru mulai mengatur jadwalnya di rumah: mengangakat jemuran, lalu membuat tugas sekolah. Setelah itu ia membantu emak menyiapkan bahan-bahan untuk nasi uduk. Lalu mandi. Lalu makan malam bersama Lela. Setelah itu membantu emak mencuci baju. Lalu belajar bahasa Inggris dan tidur, untuk kembali bangun pukul tiga subuh esok hari.

Lelah.
Heru ingin cepat besar. Ia ingin segera selesai sekolah, tak perlu lagi membantu Emak memasak nasi uduk. Ia muak harus bangun pukul tiga pagi tiap hari. Heru ingin jadi Bos, dengan karyawan yang banyak. Ia ingin bisa bangun pukul tujuh pagi dan ke kantor naik mobil pribadi. Ia ingin Emak tak perlu lagi berjualan dan banting tulang. Heru ingin cepat besar. Karena itu, tiap hari ia berusaha melupakan lelahnya dan bergegas berkejaran dengan hari. Tiap subuh ia bangun, Heru selalu meyakinkan dirinya kalau ia semakin dekat dengan hari itu, hari dimana ia jadi besar dan sukses.
Angkot 110 berhenti di depan gang rumahnya. Setelah membayar ongkos, Heru melompat turun dan berlari-lari kecil ke rumahnya.  Pukul tiga sore. Ia harus bergegas menyelesaikan semua tugasnya. Beberapa jam lagi hari ini berakhir dan esok segera tiba. Heru tersenyum lebar sambil membuka pintu rumah.


*****