Pagi perlahan mulai menyisih. Mentari mulai bersinar garang
dan sepoi angin diam-diam mulai mundur. Siang mulai beranjak datang, seiring kebisingan
jalan yang mulai riuh. Kicau burung tak lagi terdengar. Sepertinya nyanyian
mereka hanya untuk sang Pagi.
Pak Kusno menuangkan kuah kuning ke piring berisi nasi.
Lelaki paruh baya itu terlihat lebih tua dari usia yang sesungguhnya. Setelah
menuangkan kecap dan sambal, ia memberikan nasi gulai itu ke seorang supir
taksi yang biasa mangkal di sudut jalan, tempat Pak Kusno jualan.
Setiap pagi menjelang siang, nasi gulai Pak Kusno menjadi
menu makan siang andalan para supir taksi dan para tukang ojek yang mangkal di
sekitar jalan itu. Bukan karena
rasanya yang lezat, tapi lebih kepada harganya yang sesuai dengan kantung
mereka. Lima ribu rupiah untuk nasi dan gulai potongan daging dan usus ayam
(katanya) dan berharap dapat tahan sampai waktunya makan sore jam lima atau
enam nanti.
Sambil menunggu para supir menghabiskan makanannya, Pak
Kusno duduk di trotoar sambil merokok. Ia teringat percakapan semalam dengan Ningsih,
anak semata wayangnya yang masih berumur enam tahun.
“Pak, Ningsih kok gak pernah ulang tahun?” Ningsih bertanya
kepada bapaknya malam itu.
“Kenapa tiba-tiba Ningsih nanya itu?” tanya pak Kusno sambil
membelai rambut anaknya. Sejak ditinggal mati istrinya dua tahun lalu, Ningsih
adalah satu-satunya harta berharga pak Kusno. Ia rela melakukan apa saja untuk
anak itu.
“Tadi siang Ningsih nonton sinetron di rumah Ayu. Ceritanya,
anaknya ulang tahun terus dikasih kue tart yang ada lilinnya!” Ningsih
bercerita dengan antusias. Setiap siang sehabis sekolah, ia memang selalu
bermain ke rumah Ayu, tetangga sebelahnya, karena Ayu punya TV.
“Oooh..Ningsih mau kue tart?”
“Tapi Ningsih harus ulang tahun dulu kan pak?”
“Bapak lupa hari ulang tahun Ningsih…” pak Kusno menatap
sendu anaknya, dengan sedikit rasa bersalah.
“Ya udah, besok Ningsih ulang tahun ya pak!” Ningsih
mengusulkan dengan semangat.
Dan hari ini adalah hari ulang tahun Ningsih. Pak Kusno
bertekad akan membelikan anaknya kue tart, kue ulang tahun. Tapi ia tak tahu
harus beli dimana.
“Pak, kenapa hari ini gak semangat? Biasanya pak Kusno suka
guyon!” seorang tukang ojek memberikan piringnya yang telah kosong sambil
membayar makanannya.
“Le, tau gak dimana beli kue tart?” Pak Kusno bertanya.
“Ooh, kue ulang tahun ya? Beli di pasar aja pak, ada toko
roti di situ. Jangan di mall ya, mahal!”
“Harganya berapa toh le?” pak Kusno bertanya.
“ Waduh, gak tau pak. Yaaah paling 150ribuan!” si tukang
ojek menjawab sekenanya.
“150ribu ya…” diam-diam pak Kusno mulai berhitung. Itu
berarti 30 piring nasi gulai. Sampai detik ini baru 10 piring.
Siang mulai meraja. Pak Kusno kembali berhitung, 18 piring.
Masih 12 piring lagi. Tak sabar ia menanti. Jam makan siang akan berakhir satu
jam lagi. Jam tiga sore, 25 piring. Pak Kusno memikul jualannya dan mulai
berjalan. Tujuannya adalah sebuah SMP beberapa kilometer dari tempatnya
berjualan.
Di depan SMP, anak-anak baru pulang sekolah. Pak Kusno
tersenyum menanti penuh harap. Tak lama seorang bocah gendut membeli
dagangannya, diikuti beberapa temannya. Dalam empat puluh menit, 7 piring
berhasil dijual dan gulai Pak Kusno habis tak bersisa.
Kini ia harus bergegas ke toko roti di pasar. Sambil
memikul dagangannya, pak Kusno berjalan dengan tergesa-gesa. Peluh membanjiri
kening dan punggungnya. Pundaknya terasa sakit, karena jarak dari SMP ke pasar
cukup jauh.
Sampai di pasar, ia menitipkan gerobak pikulnya ke tukang
parkir dan bergegas masuk, mencari toko roti satu-satunya di pasar itu. Setelah
beberapa menit menyusuri labirin
pasar, pak Kusno sampai di toko roti itu. Tutup. Ternyata toko roti tutup
setiap jam empat sore setiap hari, demikian info dari tukang sendal di kios
sebelah. Sekarang jam empat lebih duapuluh menit. Pak Kusno gontai. Kemana ia
harus membeli kue tart untuk Ningsih?
Lalu ia teringat si tukang ojek bilang, jangan di mall,
mahal. Ia pun nekat berlari ke mall yang tak jauh dari pasar inpres itu.
Di dalam mall, pak Kusno bertanya ke satpam di sana, dimana
toko kue. Satpam menatapnya curiga, namun tetap menunjukkan arahnya. Pak Kusno
bergegas dan sampailah ia, di sebuah kios kue. Di etalase kacanya pak Kusno
bisa melihat berbagai jenis kue yang cantik-cantik.
“Saya mau ini mba!” pak Kusno menunjuk kue yang berwarna
coklat dengan hiasan cherry di atasnya.
“Itu dua ratus ribu!” sang pelayan menjawab ketus sambil
menatap pak Kusno dengan enggan.
“Oh..kalau yang ini?” kali ini Pak Kusno menujuk kue
berwarna putih yang cantik.
“Itu dua ratus lima puluh ribu!” kali ini nada suara si
pelayan makin ketus. Ia mulai tak sabar.
“Ohh..kalo…” belum selesai pak Kusno bicara, langsung
dipotong oleh si pelayan,
“Yang laen sama harganya, malah ada yang tiga ratus ribu!
Bapak bisa beli gak?”
“Uang saya cuma seratus enam puluh ribu mbak…” pak Kusno
menjawab getir. Lalu hela napas. Ada segumpal sedih yang tercekat di
kerongkongannya.
“Oh, kalo cuma segitu, dapetnya cuma ini!” sang pelayan
mengambil sebuah kue berukuran kecil dari balik etalase. Kue itu berwarna
coklat tua dengan hiasan berwarna
putih.
“ Iya saya mau itu!” pak Kusno mengangguk, matanya berbinar.
Kue kecil itu cantik sekali, Ningsih pasti senang. Ia memberikan seluruh hasil
jualannya hari itu. Sang pelayan membungkus kuenya dan cemberut menerima uang
dari pak Kusno yang kumal, pecahan sepuluh ribu dan lima ribu.
Kini pak Kusno berjalan dengan hati gembira. Rasa lelah dan
sakit di pundaknya hilang seketika. Ia tak sabar melihat reaksi Ningsih nanti!
Tanpa sadar, ia tersenyum sepanjang jalan. Tapi senyumnya hilang ketika ia
sampai di pasar. Tukang parkirnya telah berganti shift. Ia bertanya ke tukang
parkir baru itu, dimana gerobak pikulnya. Tukang parkir mengangkat bahu acuh
dan mengejar sebuah mobil yang mau parkir.
Pak Kusno panik. Ia bertanya ke semua tukang jualan yang
bisa ia temui di pasar itu, apakah
ada yang melihat gerobak pikul nasi gulainya. Tak ada yang melihat, lebih
banyak yang tak peduli. Ia mengitari pasar itu, nihil. Lelah, ia duduk di
trotoar. Hilang sudah mata pencahariannya. Ia tak tahu besok harus makan apa.
Ia menatap plastik kue di pangkuannya, terdiam beberapa saat.
Hari ini, Ningsih ulang tahun.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar