Minggu, 03 Juni 2012

#istory 2.HERU


Lelah. 
Setelah menunggu hampir dua puluh menit di bawah terik mentari, akhirnya angkot biru 110 lewat juga. Heru bergegas masuk. Tak sampai tiga menit, Heru tertidur. Kepalanya miring ke kiri, menempel ke pundak seorang wanita tengah baya, yang tertidur juga.

Lelah.
Heru menghela napas sebelum dia terlelap. Hari yang panjang untuknya, tiap hari. Ia harus bangun pukul tiga pagi, membantu emak memasak nasi uduk, untuk dijual sebagai sarapan di pasar, dan beberapa bungkus untuk Heru jual ke teman-temannya. Nasi uduk, sambal, bawang goreng, tempe goreng, tahu goreng dan bihun goreng. Oh, tak lupa kerupuk. Bersama emak, Heru memasak semuanya. Terkadang Lela adiknya yang masih SD ikut membantu. Lela membuat adonan gorengan ditemani kantuk. Heru memarut kelapa dan mengiris daun bawang, sambil sesekali menguap. Emak akan mengiris bawang merah untuk bawang goreng. Ketika azan Subuh berkumandang, Heru dan Lela akan berhenti dan sholat, lalu bersiap-siap untuk sekolah. Emak yang menyelesaikan sisanya.

Lelah.
Di sekolah Heru harus menghadapi senior-seniornya yang suka semena-mena. Mereka sering memalak anak-anak kelas satu seperti Heru. Heru belajar dari emak untuk pasrah, ketika para kakak kelas menarik kerahnya, meminta uang jajannya. Heru berkata, tidak tiap hari ia diberi uang oleh emak. Tapi ia selalu bawa nasi uduk. Awal-awal harinya sebagai junior, para kakak kelas mengambil nasi uduknya dan membuangnya ke tempat sampah, lalu tertawa-tawa dan pergi. Minggu berikutnya, mereka makan nasi uduk buatan emak, selama seminggu, sambil memalak hasil jualan nasi uduk Heru. Minggu berikutnya, mereka mulai memaksa anak-anak lain untuk membeli nasi uduk Heru dan mamaksa Heru untuk bagi hasil. Heru setuju, tak ada ruginya, ia pikir.

Lelah.
Heru tahu, emak harus banting tulang karena Bapak pergi entah kemana sejak Heru masih kecil. emak tak pernah mau membahas Bapak. Heru tak pernah bertanya. Tapi ketika ia kecil, tetangga-tetangganya pernah bergunjing kalau Bapak main gila. Sampai beberapa tahun, Heru tak mengerti arti main gila. Ia berpikir Bapak main sesuatu sampai gila. Atau Bapak gila main sesuatu. Atau Bapak gila dan main. Atau… ah sudahlah. Heru berpikir Bapak gila. Mungkin karena itu Bapak tak bisa hidup bersama emak, Heru dan Lela. Mungkin karena itu emak tak pernah mau membahas tentang Bapak. Tapi memasuki SMP, lewat pelajaran Bahasa Indonesia, Heru akhirnya mengerti, main gila itu berarti selingkuh. Bapak selingkuh dengan wanita lain. Heru mengangguk-angguk. Berarti Bapak benar-benar gila, pikirnya. Ah sudahlah, buat apa memikirkan orang gila, pikir Heru.

Lelah.
Guru-guru di sekolah hobi sekali memberikan tugas dan ulangan. Setiap hari pasti ada tugas dari minimal 3 mata pelajaran. Seperti hari ini, Heru punya tugas Fisika, Kimia dan Sejarah. Besok ia akan ulangan Bahasa Inggris. Heru tak pernah mengerti mengapa bahasa Inggris harus ribet mengenai waktu. Kenapa tak bisa seperti bahasa Indonesia yang tinggal menambahkan kemarin, dulu atau besok dan tahun depan, tanpa mengubah kata kerja?  Sambil menunggu angkot tadi, Heru mulai mengatur jadwalnya di rumah: mengangakat jemuran, lalu membuat tugas sekolah. Setelah itu ia membantu emak menyiapkan bahan-bahan untuk nasi uduk. Lalu mandi. Lalu makan malam bersama Lela. Setelah itu membantu emak mencuci baju. Lalu belajar bahasa Inggris dan tidur, untuk kembali bangun pukul tiga subuh esok hari.

Lelah.
Heru ingin cepat besar. Ia ingin segera selesai sekolah, tak perlu lagi membantu Emak memasak nasi uduk. Ia muak harus bangun pukul tiga pagi tiap hari. Heru ingin jadi Bos, dengan karyawan yang banyak. Ia ingin bisa bangun pukul tujuh pagi dan ke kantor naik mobil pribadi. Ia ingin Emak tak perlu lagi berjualan dan banting tulang. Heru ingin cepat besar. Karena itu, tiap hari ia berusaha melupakan lelahnya dan bergegas berkejaran dengan hari. Tiap subuh ia bangun, Heru selalu meyakinkan dirinya kalau ia semakin dekat dengan hari itu, hari dimana ia jadi besar dan sukses.
Angkot 110 berhenti di depan gang rumahnya. Setelah membayar ongkos, Heru melompat turun dan berlari-lari kecil ke rumahnya.  Pukul tiga sore. Ia harus bergegas menyelesaikan semua tugasnya. Beberapa jam lagi hari ini berakhir dan esok segera tiba. Heru tersenyum lebar sambil membuka pintu rumah.


*****



Tidak ada komentar:

Posting Komentar