Minggu, 01 Juli 2012

DiscoverME


‘Life is about revision’ –Ivan Deva

I am blessed, to be a part of the first batch of #DiscoverYOU.
#DiscoverYOU is a project or should I call it a ‘movement’, started by these amazing people: @ReneCC @Donipriliandi @ikosasih @onlyricky and some more great people, who gathered together in a #ImpactFactory.
This project is coaching people like me, to discover themselves thus to discover their strength ( what you ENJOY the most- a PASSION).
It has never been an easy journey for me –the last 2 weeks or my whole life, to discover who I really am, to really be honest of what I feel.
To FEEL, is not anymore an easy task for me. I don’t know when was the alarm switched off. Lately it’s hard for me to feel what I love. But I still can sense the feeling of what I don’t like. I use that to guide me in the journey.
Saturday, June 30 2012. Last day of the session. We had to make our passion statement. Camera was recording as we were talking. I was still confused. I was not sure. I did not even know what I said to the camera. I guess, I digest the whole thing slower, including the feeling. At that point, I couldn’t really translate my feeling in words.
I didn’t see my self in both of my passion statement and my Next Big things. I came home with a mixed feelings. I felt as if I failed it. So I spent my weekend to reflect on my journey. Not just the 2 weeks, but in my whole life.
Yes, I am blessed with many talents. I can draw, write, speak and think creatively. But I don’t know which one of those that I really enjoy doing. May be all of them. May be some of them.
But from all these years, I know what brings me agitation or let me use this term: ‘Holy Discontent’.
It ‘s a holy discontent for me, every time friends or cousins or colleagues come to me to share about their lives, saying they don’t know where to go or what to do. And as they are talking, I can see what they really love doing.
It ‘s a holy discontent for me, every time I see young people waste their time doing the things they don’t like doing while they know what they enjoy doing. But they just think of it as a hobby, not as a hint of God’s plans in their lives.
It ‘s a holy discontent for me, to see young people living in the comfort zones, giving in to the status quo by saying there are no choices for them. Fuck it. Choices are always out there. I did make choices, I got lost, I fell down and broken but I got up again.
I wish I were born with beautiful voice. I wish I could have magic in my body so I can move my hips and dance. I wish I had the skill in playing musical instruments. I wish I could enjoy doing sport. I’m not feeling sorry for my self. If they are not for me, then they are for other people.
But I just wish, it was obvious for me. I wish, back then, I had a coach who can help me, books I can read or even a speaker who share these things.
How I wish, there are no more young people stuck in the wrong shoes. No more singers stuck in the dancers shoes or dancers who think they should sing. I’ve been in those shoes. They bit me. I hardly walked nor ran.
Yes, I was lost but now I am found.
So I guess these are my passion statements:
1.     I feel alive every time I can help or encourage young people (who concern about their lives) with my sharing, coaching, or even my writings to discover them selves, to help them realize what they really enjoy doing. And life, starts from there.
2.     I feel alive every time I tell stories, either by speaking, writings or moving visual.
3.     I feel alive every time I’m thinking and throwing ideas in a brainstorm or group discussion.

And these are my Next Big Things:
1.     One day, I want to have big convention of young people to share & coach them about discoveringTHEM. Lot’s of ROCKSTARS will be there, from different kind of industries, to show them that the choices are out there. Then they can go back home and be agents of change in their communities.
But for now, I just want more stages to share and more time to help/coach people around me.

2.     Execute/shoot my short film. It’s been one of my ultimate dreams.      Hopefully before the end of this year.
3.     This may sound crazy but I want to make a musical about discovering your passion. It’s about a person who hates his jobs and tortured by every Monday. One day, he’s got an accident and he’s in a coma. Then the journey of discovering him begins.
Anyone wants to help? J

Oh, what about the book that I bought which had to represent my passion statement, on that last session? Ummh… It’s OK, but not as brilliant or provoking as I thought. But the thing that I learnt from that book is the simplicity in telling things. It is, important.
And I want to thank my awesome coaches:
Rene Suhardono- My coach, rockstar and a friend.
Ivan Deva- My coach in DiscoveringYOU. I learn how to be humble from this guy.
Ricky Setiawan- He is a brother to me and also a coach. He knows how it feels to read my long long email, haha.
Doni Priliandi- He is actually my first coach. I met him first before I met the other three.

I am blessed. I am grateful. And the journey begins.
Hakuna Matata.

Minggu, 10 Juni 2012

#istory 3.Pak Kusno


Pagi perlahan mulai menyisih. Mentari mulai bersinar garang dan sepoi angin diam-diam mulai mundur. Siang mulai beranjak datang, seiring kebisingan jalan yang mulai riuh. Kicau burung tak lagi terdengar. Sepertinya nyanyian mereka hanya untuk sang Pagi.
Pak Kusno menuangkan kuah kuning ke piring berisi nasi. Lelaki paruh baya itu terlihat lebih tua dari usia yang sesungguhnya. Setelah menuangkan kecap dan sambal, ia memberikan nasi gulai itu ke seorang supir taksi yang biasa mangkal di sudut jalan, tempat Pak Kusno jualan.
Setiap pagi menjelang siang, nasi gulai Pak Kusno menjadi menu makan siang andalan para supir taksi dan para tukang ojek yang mangkal di sekitar jalan itu. Bukan  karena rasanya yang lezat, tapi lebih kepada harganya yang sesuai dengan kantung mereka. Lima ribu rupiah untuk nasi dan gulai potongan daging dan usus ayam (katanya) dan berharap dapat tahan sampai waktunya makan sore jam lima atau enam nanti.
Sambil menunggu para supir menghabiskan makanannya, Pak Kusno duduk di trotoar sambil merokok. Ia teringat percakapan semalam dengan Ningsih, anak semata wayangnya yang masih berumur enam tahun.
“Pak, Ningsih kok gak pernah ulang tahun?” Ningsih bertanya kepada bapaknya malam itu.
“Kenapa tiba-tiba Ningsih nanya itu?” tanya pak Kusno sambil membelai rambut anaknya. Sejak ditinggal mati istrinya dua tahun lalu, Ningsih adalah satu-satunya harta berharga pak Kusno. Ia rela melakukan apa saja untuk anak itu.
“Tadi siang Ningsih nonton sinetron di rumah Ayu. Ceritanya, anaknya ulang tahun terus dikasih kue tart yang ada lilinnya!” Ningsih bercerita dengan antusias. Setiap siang sehabis sekolah, ia memang selalu bermain ke rumah Ayu, tetangga sebelahnya, karena Ayu punya TV.
“Oooh..Ningsih mau kue tart?”
“Tapi Ningsih harus ulang tahun dulu kan pak?”
“Bapak lupa hari ulang tahun Ningsih…” pak Kusno menatap sendu anaknya, dengan sedikit rasa bersalah.
“Ya udah, besok Ningsih ulang tahun ya pak!” Ningsih mengusulkan dengan semangat.
Dan hari ini adalah hari ulang tahun Ningsih. Pak Kusno bertekad akan membelikan anaknya kue tart, kue ulang tahun. Tapi ia tak tahu harus beli dimana.
“Pak, kenapa hari ini gak semangat? Biasanya pak Kusno suka guyon!” seorang tukang ojek memberikan piringnya yang telah kosong sambil membayar makanannya.
“Le, tau gak dimana beli kue tart?” Pak Kusno bertanya.
“Ooh, kue ulang tahun ya? Beli di pasar aja pak, ada toko roti di situ. Jangan di mall ya, mahal!”
“Harganya berapa toh le?” pak Kusno bertanya.
“ Waduh, gak tau pak. Yaaah paling 150ribuan!” si tukang ojek menjawab sekenanya.
“150ribu ya…” diam-diam pak Kusno mulai berhitung. Itu berarti 30 piring nasi gulai. Sampai detik ini baru 10 piring.

Siang mulai meraja. Pak Kusno kembali berhitung, 18 piring. Masih 12 piring lagi. Tak sabar ia menanti. Jam makan siang akan berakhir satu jam lagi. Jam tiga sore, 25 piring. Pak Kusno memikul jualannya dan mulai berjalan. Tujuannya adalah sebuah SMP beberapa kilometer dari tempatnya berjualan.
Di depan SMP, anak-anak baru pulang sekolah. Pak Kusno tersenyum menanti penuh harap. Tak lama seorang bocah gendut membeli dagangannya, diikuti beberapa temannya. Dalam empat puluh menit, 7 piring berhasil dijual dan gulai Pak Kusno habis tak bersisa.
Kini ia harus bergegas ke toko roti di pasar. Sambil memikul dagangannya, pak Kusno berjalan dengan tergesa-gesa. Peluh membanjiri kening dan punggungnya. Pundaknya terasa sakit, karena jarak dari SMP ke pasar cukup jauh.
Sampai di pasar, ia menitipkan gerobak pikulnya ke tukang parkir dan bergegas masuk, mencari toko roti satu-satunya di pasar itu. Setelah beberapa menit  menyusuri labirin pasar, pak Kusno sampai di toko roti itu. Tutup. Ternyata toko roti tutup setiap jam empat sore setiap hari, demikian info dari tukang sendal di kios sebelah. Sekarang jam empat lebih duapuluh menit. Pak Kusno gontai. Kemana ia harus membeli kue tart untuk Ningsih?
Lalu ia teringat si tukang ojek bilang, jangan di mall, mahal. Ia pun nekat berlari ke mall yang tak jauh dari pasar inpres itu.
Di dalam mall, pak Kusno bertanya ke satpam di sana, dimana toko kue. Satpam menatapnya curiga, namun tetap menunjukkan arahnya. Pak Kusno bergegas dan sampailah ia, di sebuah kios kue. Di etalase kacanya pak Kusno bisa melihat berbagai jenis kue yang cantik-cantik.
“Saya mau ini mba!” pak Kusno menunjuk kue yang berwarna coklat dengan hiasan cherry di atasnya.
“Itu dua ratus ribu!” sang pelayan menjawab ketus sambil menatap pak Kusno dengan enggan.
“Oh..kalau yang ini?” kali ini Pak Kusno menujuk kue berwarna putih yang cantik.
“Itu dua ratus lima puluh ribu!” kali ini nada suara si pelayan makin ketus. Ia mulai tak sabar.
“Ohh..kalo…” belum selesai pak Kusno bicara, langsung dipotong oleh si pelayan,
“Yang laen sama harganya, malah ada yang tiga ratus ribu! Bapak bisa beli gak?”
“Uang saya cuma seratus enam puluh ribu mbak…” pak Kusno menjawab getir. Lalu hela napas. Ada segumpal sedih yang tercekat di kerongkongannya.
“Oh, kalo cuma segitu, dapetnya cuma ini!” sang pelayan mengambil sebuah kue berukuran kecil dari balik etalase. Kue itu berwarna coklat  tua dengan hiasan berwarna putih.
“ Iya saya mau itu!” pak Kusno mengangguk, matanya berbinar. Kue kecil itu cantik sekali, Ningsih pasti senang. Ia memberikan seluruh hasil jualannya hari itu. Sang pelayan membungkus kuenya dan cemberut menerima uang dari pak Kusno yang kumal, pecahan sepuluh ribu dan lima ribu.
Kini pak Kusno berjalan dengan hati gembira. Rasa lelah dan sakit di pundaknya hilang seketika. Ia tak sabar melihat reaksi Ningsih nanti! Tanpa sadar, ia tersenyum sepanjang jalan. Tapi senyumnya hilang ketika ia sampai di pasar. Tukang parkirnya telah berganti shift. Ia bertanya ke tukang parkir baru itu, dimana gerobak pikulnya. Tukang parkir mengangkat bahu acuh dan mengejar sebuah mobil yang mau parkir.
Pak Kusno panik. Ia bertanya ke semua tukang jualan yang bisa ia temui di pasar itu,  apakah ada yang melihat gerobak pikul nasi gulainya. Tak ada yang melihat, lebih banyak yang tak peduli. Ia mengitari pasar itu, nihil. Lelah, ia duduk di trotoar. Hilang sudah mata pencahariannya. Ia tak tahu besok harus makan apa. Ia menatap plastik kue di pangkuannya, terdiam beberapa saat.
Hari ini, Ningsih ulang tahun.


*****


Minggu, 03 Juni 2012

#istory 2.HERU


Lelah. 
Setelah menunggu hampir dua puluh menit di bawah terik mentari, akhirnya angkot biru 110 lewat juga. Heru bergegas masuk. Tak sampai tiga menit, Heru tertidur. Kepalanya miring ke kiri, menempel ke pundak seorang wanita tengah baya, yang tertidur juga.

Lelah.
Heru menghela napas sebelum dia terlelap. Hari yang panjang untuknya, tiap hari. Ia harus bangun pukul tiga pagi, membantu emak memasak nasi uduk, untuk dijual sebagai sarapan di pasar, dan beberapa bungkus untuk Heru jual ke teman-temannya. Nasi uduk, sambal, bawang goreng, tempe goreng, tahu goreng dan bihun goreng. Oh, tak lupa kerupuk. Bersama emak, Heru memasak semuanya. Terkadang Lela adiknya yang masih SD ikut membantu. Lela membuat adonan gorengan ditemani kantuk. Heru memarut kelapa dan mengiris daun bawang, sambil sesekali menguap. Emak akan mengiris bawang merah untuk bawang goreng. Ketika azan Subuh berkumandang, Heru dan Lela akan berhenti dan sholat, lalu bersiap-siap untuk sekolah. Emak yang menyelesaikan sisanya.

Lelah.
Di sekolah Heru harus menghadapi senior-seniornya yang suka semena-mena. Mereka sering memalak anak-anak kelas satu seperti Heru. Heru belajar dari emak untuk pasrah, ketika para kakak kelas menarik kerahnya, meminta uang jajannya. Heru berkata, tidak tiap hari ia diberi uang oleh emak. Tapi ia selalu bawa nasi uduk. Awal-awal harinya sebagai junior, para kakak kelas mengambil nasi uduknya dan membuangnya ke tempat sampah, lalu tertawa-tawa dan pergi. Minggu berikutnya, mereka makan nasi uduk buatan emak, selama seminggu, sambil memalak hasil jualan nasi uduk Heru. Minggu berikutnya, mereka mulai memaksa anak-anak lain untuk membeli nasi uduk Heru dan mamaksa Heru untuk bagi hasil. Heru setuju, tak ada ruginya, ia pikir.

Lelah.
Heru tahu, emak harus banting tulang karena Bapak pergi entah kemana sejak Heru masih kecil. emak tak pernah mau membahas Bapak. Heru tak pernah bertanya. Tapi ketika ia kecil, tetangga-tetangganya pernah bergunjing kalau Bapak main gila. Sampai beberapa tahun, Heru tak mengerti arti main gila. Ia berpikir Bapak main sesuatu sampai gila. Atau Bapak gila main sesuatu. Atau Bapak gila dan main. Atau… ah sudahlah. Heru berpikir Bapak gila. Mungkin karena itu Bapak tak bisa hidup bersama emak, Heru dan Lela. Mungkin karena itu emak tak pernah mau membahas tentang Bapak. Tapi memasuki SMP, lewat pelajaran Bahasa Indonesia, Heru akhirnya mengerti, main gila itu berarti selingkuh. Bapak selingkuh dengan wanita lain. Heru mengangguk-angguk. Berarti Bapak benar-benar gila, pikirnya. Ah sudahlah, buat apa memikirkan orang gila, pikir Heru.

Lelah.
Guru-guru di sekolah hobi sekali memberikan tugas dan ulangan. Setiap hari pasti ada tugas dari minimal 3 mata pelajaran. Seperti hari ini, Heru punya tugas Fisika, Kimia dan Sejarah. Besok ia akan ulangan Bahasa Inggris. Heru tak pernah mengerti mengapa bahasa Inggris harus ribet mengenai waktu. Kenapa tak bisa seperti bahasa Indonesia yang tinggal menambahkan kemarin, dulu atau besok dan tahun depan, tanpa mengubah kata kerja?  Sambil menunggu angkot tadi, Heru mulai mengatur jadwalnya di rumah: mengangakat jemuran, lalu membuat tugas sekolah. Setelah itu ia membantu emak menyiapkan bahan-bahan untuk nasi uduk. Lalu mandi. Lalu makan malam bersama Lela. Setelah itu membantu emak mencuci baju. Lalu belajar bahasa Inggris dan tidur, untuk kembali bangun pukul tiga subuh esok hari.

Lelah.
Heru ingin cepat besar. Ia ingin segera selesai sekolah, tak perlu lagi membantu Emak memasak nasi uduk. Ia muak harus bangun pukul tiga pagi tiap hari. Heru ingin jadi Bos, dengan karyawan yang banyak. Ia ingin bisa bangun pukul tujuh pagi dan ke kantor naik mobil pribadi. Ia ingin Emak tak perlu lagi berjualan dan banting tulang. Heru ingin cepat besar. Karena itu, tiap hari ia berusaha melupakan lelahnya dan bergegas berkejaran dengan hari. Tiap subuh ia bangun, Heru selalu meyakinkan dirinya kalau ia semakin dekat dengan hari itu, hari dimana ia jadi besar dan sukses.
Angkot 110 berhenti di depan gang rumahnya. Setelah membayar ongkos, Heru melompat turun dan berlari-lari kecil ke rumahnya.  Pukul tiga sore. Ia harus bergegas menyelesaikan semua tugasnya. Beberapa jam lagi hari ini berakhir dan esok segera tiba. Heru tersenyum lebar sambil membuka pintu rumah.


*****



Rabu, 30 Mei 2012

#istory 1.MASDI


Semburat jingga mulai terlihat di antara gumpalan awan. Langit masih sedikit kelabu. Suara mesin kapal bercampur dengan deru angin. Bau asin air laut bercampur dengan bau tumpukan ikan segar di kapal itu.

Masdi menghela napas, untuk yang kesekian kali, berusaha menenangkan debar jantungnya. Ia menatap titik hijau di depannya. Dalam duapuluh menit mereka akan sampai di pantai. Ia punya waktu dua puluh menit untuk menemukan jalan keluar dari masalahnya, sebelum sang masalah menemuinya di daratan.
Ia menghela napas dan menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, lalu memakai topi yang sedari tadi dipegangnya.

Masalahnya dimulai semalam, ketika ia hendak melaut.  Tak biasanya, Isah datang ke pantai di larut malam. Masdi tersenyum lebar dan memegang tangan Isah. Di luar dugaan, Isah menarik tangannya. Ia tidak tersenyum sama sekali. Gadis itu membisikkan sesuatu ke telinganya lalu berlari pergi. Masdi melotot dan mematung memandang sosok Isah di telan gelap. Gadis itu meninggalkannya tanpa ia sempat mengatakan apa-apa. Tapi Masdi memang tak tahu harus mengatakan apa. Tenggorokannya tercekat. Kakinya terasa lemas. Ia berdiri mematung selama beberapa saat sampai teman-temannya meneriakinya untuk naik ke kapal.

Di tengah ombang-ambing kapal, Masdi merasa hidupnya jungkir balik. Ia masih tak percaya akan apa yang dikatakan Isah. Semalaman ia berusaha melupakan masalahnya dan berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Tapi sekarang titik hijau itu menjelma sebesar bola kasti. Lima belas menit lagi.

Ia memejamkan mata dan menghirup aroma laut sedalam-dalamnya, berharap dapat sedikit menenangkannya.  Tidak mungkin! Ia berteriak dalam hati. Pasti ada kesalahan, pikirnya. Ia lalu membuka matanya dan menatap lurus ke depan. Daratan terlihat semakin besar. Sepuluh menit lagi. Masdi lalu menggelengkan kepalanya. Semburat jingga mulai merayap dan mewarnai langit. Lima menit. Masdi menghela napas. Pasrah. Daratan. Dengan gontai ia turun dan bersama beberapa temannya menarik perahu dan mengikatnya di dermaga kecil.

Tidak mungkin, batinnya.
Lalu kembali helaan napas.
Tidak mungkin Isah hamil. 
Pasti ada yang salah...
Masdi tahu betul ia mandul.
Itu yang membuat pernikahan sebelumnya kandas.

Lalu kembali helaan napas.



*****





Selasa, 16 Agustus 2011

It's a Matter of Perspective

Perspektif. Cara Pandang. Point of view. 
Aku punya sedikit cerita tentangnya.

1. DINNER
Seorang anak sedang terlibat pembicaraan dengan ayahnya, pada saat makan malam. 

 "Ayah, dulu ayah kuliah hukum, dan lulus jadi Sarjana Hukum, knapa sekarang gak jadi pengacara?" 

" Hmmm dulu waktu ayah kuliah hukum, pekerjaan jadi pengacara itu belum populer, baru sedikit yang jadi  pengacara..." ayahnya menjelaskan sambil mengangkat bahu.

"Tapi ayah, bukankah kalau dulu ayah jadi pengacara di saat pekerjaan itu masih sedikit, ayah bisa jadi pengacara populer sekarang?" sang anak bertanya dengan polos.

Sang ayah sedikit tersedak dan kembali melanjutkan makan malam dalam diam. 


2. SHOES FACTORY
Seorang pemilik perusahaan sepatu mengirimkan 2 orang marketingnya ke 2 daerah terpencil, di luar negara mereka, untuk memperluas jaringan pasar sepatu mereka.

Setelah berlalu 2 hari, ia menelepon Tedd, marketing person yang pergi ke daerah A.
"Hi Tedd, bagaimana kabarmu? Gimana prospek pasar kita di sana?
"Bos, Anda tidak akan percaya ini! Besok saya pulang dengan penerbangan pertama! Tidak mungkin kita memasarkan sepatu kita di sini, mereka bahkan tidak pernah mengenal alas kaki!" Tedd menerangkan dengan nada putus asa kepada bos nya.

Kemudian Sang Bos menelepon Jess, yang ia kirim ke daerah B.
"Hi Jess, bagaimana di sana?" 
"Bos, Anda tidak akan percaya ini!" Jess berseru di seberang telepon. Sang bos menghela napas kecil, ia bersiap-siap menerima laporan seperti Tedd.
"Mereka tidak pernah mengenal alas kaki!" Jess kembali berseru.
"Baiklah Jess, apakah engkau akan pulang dengan penerbangan pertama besok?" sang bos benar-benar berpikir Jess akan pulang esok hari.
"Pulang? Tidak bos! Saya tidak akan pulang! Kita akan mulai membangun pabrik kita di sini! Ini pasar yang amat besar!!!!" Jess berteriak kegirangan di telepon.

3. FUTSAL CHAT
Di sudut lapangan futsal, tampak Nick sedang beristirahat sambil mengelap peluh yang deras mengucur. Andy, sahabatnya menghampirinya dan berdua mereka duduk di pinggir lapangan, sambil menatap teman-teman mereka bermain dengan gigihnya.
"Eh bro, gimana kabar apraisal lo waktu itu, jadi dipromo dong?" Andy menonjok ringan bahu Nick.

"Nah itu dia, gua dipanggil, terus bos gw bilang, walo gua udah bekerja dengan baik, gw berhasil mencapai target, bahkan lebih, dan udah mengerjakan kerjaan di luar job desk gw, malah job desk kerjaan di atas level gw, beliau masih berpikir gua terlalu dini untuk dipromosiin..." Nick mengangkat bahu sambil meminum air mineral.

"Lho, kok gitu? " Andy tampak kaget dan bingung.

"Iya, katanya gw masih baru banget di industri ini, jadi walo gw udah terbukti melakukan konstribusi dengan baik, beliau tetap mikir, rentang waktu gua bekerja masih terlalu sedikit untuk naik ke jabatan lebih tinggi"

"Terus, lo gimana bro?"

"Yah gak gimana-gimana. Iseng gua ngelamar ke tempat lain. Pas diinterview, gua bilang, gua baru di industri ini, tapi gw pekerja keras dan gua kasih tau konstribusi gua di kantor sekarang."

"Trus dia juga mikir lo masih terlalu hijau? Jadi gak bisa dapet jabatan lebih dari sekarang?" Andy berusaha menebak.

"Nope. Yang punya perusahaan itu justru bilang, kalo gua udah bisa melakukan konstribusi seperti itu padahal gua masih baru, berarti gua aset yang bagus untuk perusahaan dia. Jadi dia ngajak gabung.."

"Mantaappp!!!" Andy tertawa sambil mendorong tubuh Nick. Mereka berdua tertawa sambil berjalan,  kembali bergabung dengan teman-teman mereka di tengah lapangan.


Dunia ini dipenuhi dengan berbagai macam orang dengan berbagai macam perspektif. 
Perspektif diperlukan untuk bisa melihat dan menilai segala sesuatu dengan objektif.
Bagiku, setiap perpektif itu adalah baik, dalam artian sah-sah saja untuk memiliki cara pandang seperti itu, tapi tidak semua perspektif itu benar, dalam artian membangun, baik membangun diri kita, ataupun orang-orang di sekitar kita.

Aku ingin selalu memiliki perspektif seperti sang Anak di kisah DINNER, seperti Jess di kisah SHOES FACTORY dan berharap di kelilingi orang-orang yang sanggup memiliki perspektif seperti pemilik perusahaan yang mengajak Nick bergabung, di kisah FUTSAL CHAT.

Bagaimana dengan kamu?
Perspektif seperti apa yang kamu miliki?

Here's one more perspective that I have:
Life is good! 

:)






Senin, 18 April 2011

Kebijaksanaan Sakit...

Postingan terakhirku: 12 Februari 2011
Dan saat menulis ini: 18 April 2011


Dua bulan lebih enam hari, aku berhenti menulis, blog bahkan buku ku...
Kesibukan melumatku dengan rakus, tak membiarkan aku sekedar menghela napas.

Selama 2 bulan 2 hari: 
3 produksi: 7 hari shooting dengan jadwal mulai dari preparation, shooting dan post yang menempel seperti gerbong kereta api, sambung menyambung, tanpa jeda.

Dan setelah 3 hari shooting kemarin, tubuhku yang sudah teriak-teriak memberi alarm tanda bahaya seminggu sebelumnya, benar-benar ambruk.

Dan akupun resmi sakit. 
Resep antibiotik dan surat ijin dari dokter sudah di tangan.
Seharusnya aku bisa bermalas-malasan di tempat tidur seharian.
Seharusnya aku bisa menatap hujan deras dari balik jendela kamar.
Tapi sedari pagi, telepon dan email tak henti mengganggu.
Dan sekarang aku menatap hujan, tidak dari jendela kamar, tapi dari sebuah cafe dengan wifi.
Diiringi batuk dan hidung yang berair, aku menjawab dan mengirimkan email-email.

Setelah itu...
Berhenti,
Menatap Hujan...
Pikiranku melayang...
Dan teringat akan kata-kata almarhum Om ku beberapa tahun lalu: 
" Ika, kerjaan gak akan pernah selesai. Hari ini selesai, besok ada lagi.."

Lalu kata-kata Renee, my coach:
"Don't love your jobs, they don't love you back. Love the contribution instead"

Lalu bbm dari bos ku, sehari sebelum shooting kemarin:
"Your job will not take care of you when you are sick. Your family and friends will.."

How true...

Saat aku sakit, yang mengurus dan mendoakan adalah keluarga dan teman-teman.

Pekerjaan? Ia masih tetap saja egois dan menuntut, tak pernah peduli atau punya belas kasih. 
Tapi Ia memang sepeti itu dan agaknya akan selalu seperti itu. Jadi, biarkan saja, aku yang harus merubah caraku berhubungan dengannya. Mungkin ada baiknya tidak selalu mengiyakan tuntutannya setiap waktu. Terkadang, aku berhak untuk bilang TIDAK.

Tidak semudah itu memang, terlebih jika bukan kita yang memegang keputusan dalam banyak hal di kantor. Tapi kita selalu bisa mengambil keputusan untuk diri kita kan...
Rejeki tidak hanya di satu tempat, jadi jangan takut untuk bilang tidak, jika memang itu sudah di luar batas kekuatan kita... (ini tidak ada hubungannya dengan 'enlarging capacity' tapi konteksnya adalah bekerja di luar batas ketahahan tubuh seseorang)

Dan ini yang penting:
Aku punya kehidupan, aku punya keluarga, aku punya sahabat dan aku punya impian.

Tidak seharusnya pekerjaan kita membuat kita makin jauh dari: DIRI KITA, KELUARGA, SAHABAT dan IMPIAN kita...

Mengutip kalimat dari Brian Houston, pendiri dari Hillsong,
"Don't let what God called you to do, DISTRACT you from what God called you to do!"

I hope you get that line. I do now! 

Don't forget to REST people.....

Sabtu, 12 Februari 2011

Coretan di Mingu sore

Aku menjanjikannya seminggu. Ia memberikan waktu 2 minggu.
Kini sudah lewat 2 minggu.
Ternyata, tidak semudah yang aku pikir.

Tidak mudah menulis sebuah buku. Lebih tidak mudah lagi me-dekonstruksi sebuah buku (maafkan istilah ku).
Aku sedang melakukan yang kedua.
Materi tulisan sudah ada sejak lama. 
Namun tantangannya adalah how to make people attached or relate with the writings. 
The writings here means: my poems.
Ya, tidak banyak orang yang tertarik dengan puisi.
Seperti tidak cukup banyak buku puisi di toko-toko buku.

Jadi yang aku lakukan sekarang adalah memilah-milah, membuat daftar, membagi berdasar klasifikasi dan membuat sebuah cerita untuk menyambungkan semua materi tadi.
Tidak semudah itu.
Terutama ketika harus berkejaran dengan jadwal kantor (yang bukan 9 to 5, tetapi bisa tidak libur berminggu-minggu ketika ada produksi) dan pelayananku.

Aku bisa membuat daftar segala kesulitanku di sini.
Tapi tak banyak gunanya.
Aku meyakini satu hal,
aku akan berhasil menyelesaikan buku ini, tepat waktu!

:D