Selasa, 16 Agustus 2011

It's a Matter of Perspective

Perspektif. Cara Pandang. Point of view. 
Aku punya sedikit cerita tentangnya.

1. DINNER
Seorang anak sedang terlibat pembicaraan dengan ayahnya, pada saat makan malam. 

 "Ayah, dulu ayah kuliah hukum, dan lulus jadi Sarjana Hukum, knapa sekarang gak jadi pengacara?" 

" Hmmm dulu waktu ayah kuliah hukum, pekerjaan jadi pengacara itu belum populer, baru sedikit yang jadi  pengacara..." ayahnya menjelaskan sambil mengangkat bahu.

"Tapi ayah, bukankah kalau dulu ayah jadi pengacara di saat pekerjaan itu masih sedikit, ayah bisa jadi pengacara populer sekarang?" sang anak bertanya dengan polos.

Sang ayah sedikit tersedak dan kembali melanjutkan makan malam dalam diam. 


2. SHOES FACTORY
Seorang pemilik perusahaan sepatu mengirimkan 2 orang marketingnya ke 2 daerah terpencil, di luar negara mereka, untuk memperluas jaringan pasar sepatu mereka.

Setelah berlalu 2 hari, ia menelepon Tedd, marketing person yang pergi ke daerah A.
"Hi Tedd, bagaimana kabarmu? Gimana prospek pasar kita di sana?
"Bos, Anda tidak akan percaya ini! Besok saya pulang dengan penerbangan pertama! Tidak mungkin kita memasarkan sepatu kita di sini, mereka bahkan tidak pernah mengenal alas kaki!" Tedd menerangkan dengan nada putus asa kepada bos nya.

Kemudian Sang Bos menelepon Jess, yang ia kirim ke daerah B.
"Hi Jess, bagaimana di sana?" 
"Bos, Anda tidak akan percaya ini!" Jess berseru di seberang telepon. Sang bos menghela napas kecil, ia bersiap-siap menerima laporan seperti Tedd.
"Mereka tidak pernah mengenal alas kaki!" Jess kembali berseru.
"Baiklah Jess, apakah engkau akan pulang dengan penerbangan pertama besok?" sang bos benar-benar berpikir Jess akan pulang esok hari.
"Pulang? Tidak bos! Saya tidak akan pulang! Kita akan mulai membangun pabrik kita di sini! Ini pasar yang amat besar!!!!" Jess berteriak kegirangan di telepon.

3. FUTSAL CHAT
Di sudut lapangan futsal, tampak Nick sedang beristirahat sambil mengelap peluh yang deras mengucur. Andy, sahabatnya menghampirinya dan berdua mereka duduk di pinggir lapangan, sambil menatap teman-teman mereka bermain dengan gigihnya.
"Eh bro, gimana kabar apraisal lo waktu itu, jadi dipromo dong?" Andy menonjok ringan bahu Nick.

"Nah itu dia, gua dipanggil, terus bos gw bilang, walo gua udah bekerja dengan baik, gw berhasil mencapai target, bahkan lebih, dan udah mengerjakan kerjaan di luar job desk gw, malah job desk kerjaan di atas level gw, beliau masih berpikir gua terlalu dini untuk dipromosiin..." Nick mengangkat bahu sambil meminum air mineral.

"Lho, kok gitu? " Andy tampak kaget dan bingung.

"Iya, katanya gw masih baru banget di industri ini, jadi walo gw udah terbukti melakukan konstribusi dengan baik, beliau tetap mikir, rentang waktu gua bekerja masih terlalu sedikit untuk naik ke jabatan lebih tinggi"

"Terus, lo gimana bro?"

"Yah gak gimana-gimana. Iseng gua ngelamar ke tempat lain. Pas diinterview, gua bilang, gua baru di industri ini, tapi gw pekerja keras dan gua kasih tau konstribusi gua di kantor sekarang."

"Trus dia juga mikir lo masih terlalu hijau? Jadi gak bisa dapet jabatan lebih dari sekarang?" Andy berusaha menebak.

"Nope. Yang punya perusahaan itu justru bilang, kalo gua udah bisa melakukan konstribusi seperti itu padahal gua masih baru, berarti gua aset yang bagus untuk perusahaan dia. Jadi dia ngajak gabung.."

"Mantaappp!!!" Andy tertawa sambil mendorong tubuh Nick. Mereka berdua tertawa sambil berjalan,  kembali bergabung dengan teman-teman mereka di tengah lapangan.


Dunia ini dipenuhi dengan berbagai macam orang dengan berbagai macam perspektif. 
Perspektif diperlukan untuk bisa melihat dan menilai segala sesuatu dengan objektif.
Bagiku, setiap perpektif itu adalah baik, dalam artian sah-sah saja untuk memiliki cara pandang seperti itu, tapi tidak semua perspektif itu benar, dalam artian membangun, baik membangun diri kita, ataupun orang-orang di sekitar kita.

Aku ingin selalu memiliki perspektif seperti sang Anak di kisah DINNER, seperti Jess di kisah SHOES FACTORY dan berharap di kelilingi orang-orang yang sanggup memiliki perspektif seperti pemilik perusahaan yang mengajak Nick bergabung, di kisah FUTSAL CHAT.

Bagaimana dengan kamu?
Perspektif seperti apa yang kamu miliki?

Here's one more perspective that I have:
Life is good! 

:)






Senin, 18 April 2011

Kebijaksanaan Sakit...

Postingan terakhirku: 12 Februari 2011
Dan saat menulis ini: 18 April 2011


Dua bulan lebih enam hari, aku berhenti menulis, blog bahkan buku ku...
Kesibukan melumatku dengan rakus, tak membiarkan aku sekedar menghela napas.

Selama 2 bulan 2 hari: 
3 produksi: 7 hari shooting dengan jadwal mulai dari preparation, shooting dan post yang menempel seperti gerbong kereta api, sambung menyambung, tanpa jeda.

Dan setelah 3 hari shooting kemarin, tubuhku yang sudah teriak-teriak memberi alarm tanda bahaya seminggu sebelumnya, benar-benar ambruk.

Dan akupun resmi sakit. 
Resep antibiotik dan surat ijin dari dokter sudah di tangan.
Seharusnya aku bisa bermalas-malasan di tempat tidur seharian.
Seharusnya aku bisa menatap hujan deras dari balik jendela kamar.
Tapi sedari pagi, telepon dan email tak henti mengganggu.
Dan sekarang aku menatap hujan, tidak dari jendela kamar, tapi dari sebuah cafe dengan wifi.
Diiringi batuk dan hidung yang berair, aku menjawab dan mengirimkan email-email.

Setelah itu...
Berhenti,
Menatap Hujan...
Pikiranku melayang...
Dan teringat akan kata-kata almarhum Om ku beberapa tahun lalu: 
" Ika, kerjaan gak akan pernah selesai. Hari ini selesai, besok ada lagi.."

Lalu kata-kata Renee, my coach:
"Don't love your jobs, they don't love you back. Love the contribution instead"

Lalu bbm dari bos ku, sehari sebelum shooting kemarin:
"Your job will not take care of you when you are sick. Your family and friends will.."

How true...

Saat aku sakit, yang mengurus dan mendoakan adalah keluarga dan teman-teman.

Pekerjaan? Ia masih tetap saja egois dan menuntut, tak pernah peduli atau punya belas kasih. 
Tapi Ia memang sepeti itu dan agaknya akan selalu seperti itu. Jadi, biarkan saja, aku yang harus merubah caraku berhubungan dengannya. Mungkin ada baiknya tidak selalu mengiyakan tuntutannya setiap waktu. Terkadang, aku berhak untuk bilang TIDAK.

Tidak semudah itu memang, terlebih jika bukan kita yang memegang keputusan dalam banyak hal di kantor. Tapi kita selalu bisa mengambil keputusan untuk diri kita kan...
Rejeki tidak hanya di satu tempat, jadi jangan takut untuk bilang tidak, jika memang itu sudah di luar batas kekuatan kita... (ini tidak ada hubungannya dengan 'enlarging capacity' tapi konteksnya adalah bekerja di luar batas ketahahan tubuh seseorang)

Dan ini yang penting:
Aku punya kehidupan, aku punya keluarga, aku punya sahabat dan aku punya impian.

Tidak seharusnya pekerjaan kita membuat kita makin jauh dari: DIRI KITA, KELUARGA, SAHABAT dan IMPIAN kita...

Mengutip kalimat dari Brian Houston, pendiri dari Hillsong,
"Don't let what God called you to do, DISTRACT you from what God called you to do!"

I hope you get that line. I do now! 

Don't forget to REST people.....

Sabtu, 12 Februari 2011

Coretan di Mingu sore

Aku menjanjikannya seminggu. Ia memberikan waktu 2 minggu.
Kini sudah lewat 2 minggu.
Ternyata, tidak semudah yang aku pikir.

Tidak mudah menulis sebuah buku. Lebih tidak mudah lagi me-dekonstruksi sebuah buku (maafkan istilah ku).
Aku sedang melakukan yang kedua.
Materi tulisan sudah ada sejak lama. 
Namun tantangannya adalah how to make people attached or relate with the writings. 
The writings here means: my poems.
Ya, tidak banyak orang yang tertarik dengan puisi.
Seperti tidak cukup banyak buku puisi di toko-toko buku.

Jadi yang aku lakukan sekarang adalah memilah-milah, membuat daftar, membagi berdasar klasifikasi dan membuat sebuah cerita untuk menyambungkan semua materi tadi.
Tidak semudah itu.
Terutama ketika harus berkejaran dengan jadwal kantor (yang bukan 9 to 5, tetapi bisa tidak libur berminggu-minggu ketika ada produksi) dan pelayananku.

Aku bisa membuat daftar segala kesulitanku di sini.
Tapi tak banyak gunanya.
Aku meyakini satu hal,
aku akan berhasil menyelesaikan buku ini, tepat waktu!

:D
 




Jumat, 28 Januari 2011

My Life after #Misi21

VIM w VIP

Kamis kemarin, aku menghadiri 'Very Important Meeting with Very Important Person':
Rene CC.

Aku belum mau bercerita banyak tentang itu. Smoga kami dapat menghasilkan sesuatu yang baik, yang berguna bagi orang banyak dan mampu mengubahkan hidup orang lain. 
Tidak pernah bermimpi akan mendapat kesempatan luar biasa, bersama seseorang yang luar biasa!

Dan ada lagi 1 hal luar biasa yang terjadi....
Orangtuaku tidak pernah tahu atau sadar kalau aku suka menulis.
Tapi beberapa hari lalu aku mendapati mama sedang membaca blog ku melalui BB salah 1 adikku.
Dan semalam ketika pulang, mama berkata:
"Papa bilang tulisan-tulisan kamu bagus!"
"Huh?"
"Iya, dia baca blog kamu tadi" 

Dan aku diam.
Gak pernah menyangka, akhirnya mama dan papa membaca tulisan-tulisanku.
Banyak orang mungkin pernah membaca dan suka dengan tulisanku, tapi ternyata, betapa sedih ketika orang-orang terdekat kita tidak pernah mengetahui karya-karya yang kita buat.

Berita barusan membuat aku benar-benar tidak tahu harus berpikir atau merasa apa.
Belum selesai aku merasa shock, mama meneruskan,
"Kamu serius mau bikin film pendek juga?"
"Hmmm? iya..."
Dan tiba-tiba mama dan papa mulai membicarakan tentang film pendekku, lalu tentang angan-anganku untuk suatu saat membuat film tentang pahlawan dari tanah Batak. Papa pun mulai bercerita sejarah. I know he's good in that.... 

Semalam, aku bisa melihat, betapa kedua orang tuaku mulai dapat menerima dan bahkan mendukung, impian anaknya. Sesuatu yang susah aku bayangkan sebelumnya.

Mama berkata,
"Gimana kalau orang-orang mencomooh impian-impian kamu?"
"Gak papa, aku justru kasian ama mereka, karena mereka pasti gak punya mimpi" aku menjawab sambil tersenyum.

Ketika orang-orang terdekat mu tahu dan mendukung impian mu, sepertinya, tak ada halangan yang terlalu besar lagi! 

I am blessed and grateful for this!

Sabtu, 22 Januari 2011

MY #Misi21 JOURNEY

#Misi21 ku sudah berakhir kemarin, di hari Sabtu.

Sambil menulis ini, aku berpikir, wow, luar biasa, hari ke 21 ku adalah REST, yang dilakukan di hari Sabtu yang notabene hari ke7, hari untuk istirahat/REST!

Amazing!

Begitu banyak hal yang aku alami selama 21 hari ini. #Misi21 mengajak kita untuk berkomitmen selama 21 hari. Dan selama 21 hari itu, aku memperhatikan, bahwa banyak komitmen-komitmen baru yang dihasilkan.

Aku berkomitmen untuk:
-sit-up di pagi hari,
-menulis lebih banyak  dan lebih sering (maka lahirlah blog ini)
-memulai hidup sehat setelah berani menimbang berat badan (dan katanya aku kurusan, hahaha padalah beratku belum berkurang….)
-Memperhatikan pola minumku dan memperbaikinya
-Mengajar untuk anak-anak ODHA di Taman Suropati
-Menjadi usher di JPCC

Selain itu, aku juga melakukan hal-hal yang selama ini aku pikir tak mungkin aku lakukan:
-Menelpon opung cewe ku
-Mengirim sms singkat ke mama saying: I love you dan minta doa nya
-Menggambar dengan tangan kiri 1 hal A2 full!
-Capturing hal-hal yang aku lihat seharian dengan kamera onyx ku
-Menulis email permintaan maaf kepada mantan bos ku. Oooh btw, akhirnya aku mendapat email balasan! Ternyata ia sudah memafkan aku dan ia amat menghargai usahaku mencari alamat email nya dan mau menulis email itu kepadanya. Luar biasa senaaaanngg dan lega!

Aku juga belajar untuk tidak stress dan happy di lokasi shooting, menyempatkan menghampiri Sang Kekasih dan Penciptaku selama 15 menit di pagi hari (ini akan menjadi komitmen selanjutnya) dan mengerti betapa pentingnya istirahat.

Selama 21 hari, aku menjadi saksi betapa mampu kita melakukan hal-hal yang selama ini kita pikir tidak mampu. Humans are capable of so many things but we are not aware of it.

Selama 21 hari aku belajar bahwa 1 komitmen dapat membawa kita ke komitmen selanjutnya. And by the way, isn’t life is about commitment?

Setelah 21 hari, aku  dapat menyimpulkan :
Hidup itu AWESOME, jika kita mau membuatnya AWESOME.

My #Misi21 IS ACCOMPLISHED!   

And I am ready for the next level of my life, the next mission!

#Misi21 D21

REST!

Aku memulai D1 dengan sit up, dan mengakhirinya denga REST.

Hari ini, aku memutuskan untuk beristirahat dari minggu-minggu ku yang padat dan jumpalitan.
Aku menghabiskan waktu untuk tidur, berinteraksi dengan orang rumah, makan makanan rumah, dan mendengarkan curhat tanteku yang datang berkunjung (selama seminggu ini ia beberapa kali datang ke rumahku, tapi baru dapat bertemu dengan ku di hari Sabtu ini).

Dan aku menikmati hari ini. I really love today! Hanya di rumah, menikmati rintik hujan di pagi hari, minum kopi susu, tidur siang ditemani langit mendung, dan nonton DVD.

Mungkin ada yang berpikir, REST adalah hal yang mudah, hal yang sepele, hal yang tidak seharusnya dimasukkan dalam sebuah #Misi21.

Dalam proses penciptaan langit dan bumi selama 6 hari, diceritakan bahwa setiap hari setelah ada 1 proses penciptaan, selalu ada kata-kata ini:
“Jadilan petang, jadilah pagi”

Menarik untuk melihat, kata-kata di atas di ulang selama  6 kali.
Mengapa petang dahulu, baru pagi? Bukankah pagi datang lebih dahulu baru kemudian petang?

Menurutku, Tuhan dari awalpun, sudah mengajarkan kita pentingnya istirahat (to REST). Karena itu, Ia memulainya dengan “Jadilah petang, jadilah pagi”. Kalimat sederhana itu mengajak kita melihat prosesnya: dari petang ke pagi harus melalui malam.

Petang identik dengan waktunya pulang, malam identik dengan waktunya tidur/istirahat. Dan Pagi identik dengan memulai aktifitas.

See, sebelum memulai aktifitas, kita harus (memiliki) istirahat yang cukup dulu. Dan setelah selesaipun, kita harus beristirahat.

Tuhan menyelesaikan Misi Penciptaan Langit dan Bumi nya dalam 6 hari. 
Dan di hari ke 7 Ia: ISTIRAHAT.

Dan istirahat di sini, mengandung arti: bersiap-siap untuk misi berikutnya.

Begitu juga aku, #Misi21 ku diakhiri dengan istirahat. Karena aku bersiap-siap akan misi berikutnya. Mungkin bukan #Misi21, karena aku tidak akan mengulangnya. Tapi hidupku tak pernah sama lagi setelah mengikuti #Misi 21. Begitu banyak hal luar biasa yang terjadi.

And I’m getting ready for the next level of my life. That’s why, I need a good REST!

Dan hal yang luar biasa terjadi dan mungkin akan terlewatkan jika aku tidak memutuskan untuk REST hari ini:
Wijayakusuma di rumah berbunga, begitu indah dan harum. Bagiku, itu reward setelah mengikuti #Misi21 ini. Kalau saja aku tidak memutuskan istirahat di rumah hari ini, aku tidak akan melihat bunga itu, karena keesokan harinya ia pasti sudah layu.





Oh, by the way, arti dari Wijayakusuma adalah: BUNGA KEMENANGAN! 
Bukan kebetulan, bunga ini mekar di hari 21 #Misi 21 ku!

TOTALLY AWESOME!

#Misi21 D20

HAPPY on location

Yeap, aku menambah dosis tantanganku. Setelah kemarin tidak stress, hari ini ditambah HAPPY.

Agak deg-deg an dengan keputusan itu.  Tapi entah kenapa, ketika aku memasuki lokasi, aku merasa ringan. Ketika sutradara telat 2 jam pun, aku masih bisa tersenyum.

Dan shooting pun dimulai. Aku benar-benar menikmati hari ini. Hampir tidak ada masalah.. (atau mungkin aku tidak lagi ‘mampu’ melihat masalah, karena aku belajar untuk melihat dan menjadi solusi). Dan mungkin HAPPY ku sudah mulai berubah menjadi JOY.

Aku hanya menjalankan tugas ku sebagai Line Produser sebaik-baiknya, ditambah dengan porsi senyum dan tawa ku yang bertambah hari ini.

Tadinya aku berpikir, ketika kita Happy atau joyful, hanya kita yang merasakan. Tapi, salah seorang anak agency mengirimkan aku bbm esok harinya:

“Aku ingin belajar optimis seperti mba Ika. Terus semangat ya mba, karena mba mempesona dari pribadinya, jadi somehow kliatan enak, luwes dan care”.

Hampir menangis membaca bbm nya
.
It’s true, happiness is contagious. And when you choose to be happy, it becomes JOY.  
And I tell you this: JOY is sparkling, somehow!

#Misi21 D19

No STRESS on location.

Shooting hari pertama, dan aku menantang diriku untuk tidak stress hari ini.

Berbicara mengenai stress, penyakit itu memang sering menyerangku di lokasi shooting. Gerak-gerikku mungkin tidak menunjukkan itu, tapi air muka ku tidak bisa berbohong.
Pernah suatu hari di lokasi shooting, sutradara nya menyuruhku tersenyum. Di kesempatan lain, ia memanggilku karena concern dengan wajahku yang katanya terlihat stress. Di hari-hari awalku masuk dunia produksi, aku pernah sampai menangis, karena seorang sutradara mengerjaiku habis-habisan.

Dan hari ini, ada beberapa alasan bagi ku untuk stress:
1. Copy/script belum ada yang fixed, berarti akan makan waktu untuk membuat script dan bagi talent untuk menghafalnya.
2. Wardrobe untuk 2 anak kecil belum selesai, diperkirakan baru selesai sekitar jam 2 siang. Jadi, kita tidak bisa take scene anak-anak sebelum jam 2, apapun yang terjadi.
3. Director tidak suka dengan wardrobe talent utama, so jika klien juga tidak suka, dipastikan ada sesi menjahit baju di lokasi dan semua jadwal breakdown otomatis berubah.

Dan ketika shooting berjalan, daftarku semakin bertambah:
4. Asisten wardrobe salah beli bahan baju, dan dipastikan baju anak-anak itu baru selesai sekitar jam 4 sore, mungkin lebih sore lagi!
5. Dan semakin sore, semakin larut bagi anak-anak kecil itu untuk selesai, berarti akan mempengaruhi mood mereka.
6. Talent utama mulai kesal karena dia belum juga di take, karena script belum selesai.

Tapi pagi tadi, aku berkomitmen, untuk tidak stress, apapun yang terjadi.

Dan pagi ini, aku masuk ke set dengan satu pikiran dan keyakinan: apapun yang terjadi, pasti bisa terselesaikan dan ada solusinya.

Lalu, itulah yang terjadi. Daftar alasan stress ku tidak berkurang, malah mungkin bertambah selama di lokasi.
Yang berubah adalah caraku melihatnya. Itu bukan lagi 'daftar alasan untuk stress', tetapi daftar tantangan yang dapat dihadapi. Penting untuk memasukkan kata “dapat dihadapi” di sini, karena itu membuat masalah itu tidak lebih besar dari diriku.

Amazing, walau flu menyerang, hampir tidak tidur, dan dengan segala masalah, aku dapat menjalani shooting hari ini tanpa stress, bahkan ketika kami masih hutang beberapa frames untuk esok hari.

Ternyata, kerja tanpa stress itu, menyenangkan dan lebih ringan…

Rabu, 19 Januari 2011

#Misi21 D18

LIMA BELAS

Lima belas menit di subuh tadi,
aku menghampiri Dia,
yang amat mengasihiku...
Selama ini aku hanya menyapanya tiap pagi
selama 1 atau 2 menit
dalam doa yang terburu-buru.

Tapi subuh tadi,
ketika terbangun oleh suara weker,
aku teringat akanNya,
dan merasakan kerinduan sangat....

Lalu aku menghampirinya,
dan menyapanya,
lewat beberapa lagu pujian,
yang dinyanyikan terbata-bata
karena suaraku tidak indah...

Selama lima belas menit subuh tadi,
aku menghampiri Dia,
dan mengucapkan terimakasih...
hanya terimakasih...

Dan saat itu,
aku kembali diingatkan
betapa  Dia mengasihi aku..
betapa aku merasakan,
kalau aku dikasihi...

Dan apa yang terjadi seharian ini luar biasa!

Hariku benar-benar jumpalitan!
Sebuah project shooting untuk esok,
on dan off berkali-kali dalam sehari....
Lokasi dan talent baru jelas menjelang malam...
Wardrobe masih bermasalah,
pun saat aku menulis ini...

Dan sampai detik inipun,
masih saja ada masalah untuk esok...

Tapi,
sebesar apapun tantangan hari ini dan esok,
aku tahu ada yang lebih besar 
dari smua masalahku...
ada yang lebih besar 
dari semua tantanganku...
Ada Dia,
yang Terbesar,
dengan kasihnya
yang begitu besar,
dan tak berkesudahan...

So, i guess, all is well!


Selasa, 18 Januari 2011

#Misi21 D17

I LOVE YOU MAMA...

Ini sepertinya akan jadi post terpendek ku di #misi21
Pagi tadi, di sela-sela kesibukan produksi, aku mengirim SMS singkat ke mama.
Aku bukan seseorang yang hangat dan gampang mengungkapkan perasaan, terlebih kepada orangtuaku.
Tapi pagi aku mengirimkan dia sms singkat:

"Dear Mama, just wanna say: thank you for everything. Aku sayang ibu. Smoga suatu hari aku bisa bikin ibu banga. Selalu doain aku yaaa..." (Ibu panggilan sayangku ke mama)

Dan jawaban mamaku: 
"Iya, doa mama selama hayat di kandung badan"

Sms yang pendek...
Post yang pendek...
Tapi doa mamaku begitu panjang, 
selama hayatnya dikandung badan....
Tak henti, 
sampai nafasnya terhenti....

I love my mom...


Senin, 17 Januari 2011

#Misi21 D16

EIGHT!

Delapan...
Delapan gelas air dalam sehari, untuk D16 ku kali ini.
Sebelumnya tidak pernah terpikir untuk minum sampai segitu banyak dalam sehari.
Sebelumnya tidak pernah berpikir, itu 'cukup penting'.
Sampai Sabtu kemarin, ketika sauna, aku tidak berkeringat sebanyak seharusnya..
Iyank mengatakan mungkin karena aku jarang minum...
Dan memang benar adanya.
Aku bukan pecinta soft drink, aku tidak mengganti air putih dengan soft drink.
Tapi memang aku hanya minum air putih saat makan siang dan kalau haus saja, hehe...

Pagi ini, aku mulai memperhatikan pola minum ku...
Bangun pagi, seperti biasa aku minum kopi...tapi hanya beberapa hirup, karena terlalu pagi dan aku harus buru-buru ke kantor.
Sampai kantor, aku minum air putih segelas, kemudian aku minta...teh panas...
Setelah present selesai, kami makan siang di suatu mall...
Dan aku lupa memesan air putih....aku memesan es teh...
Sampai di kantor sekitar jam 4an, aku baru berhasil meminum 3 gelas air putih!

Akhirnya dalam beberapa jam, aku berhasil memenuhi kuota 5 gelas lagi...
Well, tidak sekaligus, tapi ada jeda sekitar setengah jam setiap 2 gelas...
Rasanya setelah berhasil minum 8 gelas?
Kembung!
Hahhahaa...
Dan membuatku jadi sering bolak-balik ke toilet (dan itu adalah penderitaan, dengan after effect dari Spartacus yang menyiksaku seharian!)

Tapi itu membuatku tersadar,
akan pola minum ku selama ini (selama ini kita sering memperhatikan pola makan, tapi jarang memperhatikan pola minum).
Dan memang tidak sehat...
Kasian tubuhku, selama ini mereka menanggung beban dari pola minumku yang buruk..
Untung ginjalku masih cukup kuat dan berbaik hati melakukan pekerjaannya dengan baik...

Baiklah....
Mulai hari ini,
Aku akan belajar minum air putih,
delapan gelas setiap hari!

Minggu, 16 Januari 2011

#Misi21 D15

TO SERVE MORE

Hari ini aku memulai training ku sebagai usher di JPCC.
JPCC adalah gerejaku, yang berlokasi di Annex Building.
Usher adalah penerima tamu.
Setiap kebaktian ada sekitar 1000 orang yang datang dan dengan jumlah usher yang hanya sekitar 20an orang setiap kebaktian, bisa dipastikan betapa sibuknya kami.

Menjadi anak baru, dengan job desk sebagai penerima tamu aka melayani.
Bukan hal yang mudah apalagi menyenangkan.
Sebelum menjadi usher, aku melayani sebagai presenter.
Presenter mungkin bagi banyak orang adalah tugas yang dilihat orang, dan terkesan 'keren' karena bisa mejeng di Big Screen di setiap ibadah.
Dan keputusan menjadi usher tentunya agak mengejutkan bagi beberapa teman-temanku, karena dengan begitu aku membiarkan diriku mulai lagi dari awal (sebagai anak training), menyapa setiap jemaat yang datang dengan senyum, melayani para jemaat, siap menerima amarah mereka yang tidak dapat tempat duduk dan harus extra ramah dan sabar.

Dan tidak hanya di gereja,
di tempat kerjaku sekarangpun, 
aku melayani para client dan agency, serta membantu produser dan EP di atasku.

Tidak mudah memang, untuk mau melayani orang lain.
Tapi sepertinya aku memerlukannya untuk belajar menjadi rendah hati.
Karena kelak aku akan jadi pemimpin...wait, I am a leader now...
Yes, I am a leader..
And leaders are those who serve people...
That's what Jesus did...
That's what Budha did..
That's what Mother Teresha did...
That's what a president (suppose) to do... hehe...
But sadly, many people don't understand about leadership..
They think being leaders are being bossy, being mean, being arrogant, being SERVED...

In my own opinion,
to lead is to serve...

So if you call yourself a leader,
but you don't serve people around you, 
never serve your community 
or being useful to your generation,
you need to question your self...

Dan sebagai pemimpin, orang pertama yang harus kau pimpin adalah...
dirimu sendiri...
Jadi sekarang aku memimpin diriku,
untuk mau melayani lebih....

Sabtu, 15 Januari 2011

#Misi21 D14

GIRLS GYM DAY OUT!

Aku bukan seorang yang hobi olahraga.
Dan ide untuk olahraga di hari Sabtu pagi, bukanlah hal yang menggembirakan apalagi menggoda hati.
Dengan pekerjaan di bidang produksi, cukup sering Sabtu-Minggu ku dipakai bekerja. Jadi ketika aku mendapati hari Sabtuku libur, benar-benar suatu kemewahan!

Tapi dari Jumat malam Iyank dan Sari berulangkali mengajakku untuk ke gym pada Sabtu pagi.
Aku mengiyakan sekenanya. Jumat malam, aku berpikir akan mengabarkan mereka esok pagi kalau aku batal ikut. Lalu aku tidur.

Dan Sabtu pagi jam 5.30 aku terbangun. Aku memandang jam dengan malas. Di luar hujan gerimis... sungguh menggoda untuk kembali menarik selimut dan tidur lagi sampai jam 8!
Tapi entah kenapa aku merubah pikiran ku dan langsung menyiapkan segala perlengkapan gym. Lalu minum kopi, mandi dan berangkat.

Jam 8 pagi, kami bertiga, aku, Iyank dan Sari sampai di Celebrity Fitness Kemang. 
Kami memulai sesi hari ini dengan sauna 15 menit. 
Kemudian main course: Spartacus workout! Dengan segala usaha, kami berhasil menyelesaikan 1 set. Itupun rasanya seperti sudah mau pingsan!
Lalu istirahat minum juice.
Dilanjutkan latihan beban.
Dan kembali diakhiri dengan sauna 15 menit.
Lalu selesailah acara 'Sabtu Sehat' kami.

Badan rasanya segar, walau sakit sangat.
Kami berniat melakukan ini setiap Sabtu pagi... (I'll think about it yaaa...heheh..)

Tapi aku mendapat bonus menyenangkan hari ini!
Dua orang lelaki mengatakan bahwa aku kurusan! Woohoooo!
Mereka adalah Sunu, suami Iyank yang menjemput kami dan Justin Woon, sahabatku yang melihat foto kami bertiga setelah selesai latihan.

Hmmm ternyata program sehatku sejak awal Januari membuahkan hasil...
It's one of my resolutions this year, hidup sehat dan turun berat badan, hahaha...
Sepertinya aku mulai mempertimbangkan untuk ke gym setiap Sabtu pagi....


Jumat, 14 Januari 2011

#Misi21 D13

CAPTURING FRIDAY...

Ide untuk D13 hari ini, berawal dari 'kegeraman' ku dengan instagram di iphone. Geram karena dengan aplikasi ini, dapat dengan mudahnya mengambil foto dan hasilnya sudah pasti bagus, karena warna, filter dan filmnya sudah di atur (secara digital tentunya). Geram, karena aku tidak punya, hehe...

Aku hanya punya onyx-ku.
Kemudian berpikir untuk bermain dengan kamera onyx...tentunya aku memerlukan bantuan photoshop...

Tapi yang terjadi kemudian, luar biasa...
Ternyata,
ini bukan lagi tentang instagram,
bukan lagi tentang onyx...
bukan lagi tentang aplikasi....

Ternyata,
selama ini,
aku suka lupa hal-hal yang ada di sekitarku,
Aku tidak pernah memperhatikan,
hal-hal yang ada di sekelilingku,
dari mulai bangun pagi
sampai hari selesai...
Betapa banyak,
keindahan yang diberikan Tuhan
Betapa sering,
kita lupa berterimakasih...

So i captured those things around me,
those beautiful things and moments...



















Kamis, 13 Januari 2011

#Misi21 D12

D12, a short talk with my mom in the morning...

Pembicaraan singkat dengan mama di pagi hari,
Yang membuatnya meneteskan air mata...
Yang membuatku merasa kegelisahan yang amat sangat...
Kegelisahan untuk berbagi kepada banyak orang...

Mama bercerita, kalau ternyata selama ini papa keberatan dengan pilihan kami anak-anaknya...
Dan itu membuatnya sebagai ibu amat sedih dan sakit hati...
Bagi mama, sebagai orang tua, harus mendukung anak-anaknya...
Mama berkata kepadaku untuk membuktikan pada orang-orang bahwa pilihanku tidak salah, bahwa aku bisa berhasil...
Aku merangkulnya dan berkata, "I'll be fine mom, I'm sure about 1 thing, if somebody follows his/her passion, there's now way he/she is not gonna shine. I'll shine mama. All of your daughters will!"

Aku sekarang bekerja di sebuah Production House yang mungkin bagi papaku kecil...
Aku pernah pindah-pindah pekerjaan beberapa kali. Kantor-kantorku sebelumnya termasuk kantor besar yang punya nama. Kalau tidak perusahaan multinasional, pasti perusahaan nasional ternama. 
Tapi di tempat-tempat itu, aku belum menemukan passionku, masih mencari, masih tersesat, masih terjebak dalam sebuah obsesi yang tidak sehat.
Tapi di tempat yang sekarang, walau bukan tempat impian, aku tahu aku berada di track yang benar...
This is my stepping stone and I know that every day I am one step closer to my dreams...

Walaupun aku harus memulai semua dari awal...
Dari menjadi creative di sebuah agency, rela menjadi Production Assistant di Production House (bagi yang tidak tahu, PA itu bisa dibilang paling bawah di dalam 'hirarki  PH'), kemudian naik menjadi Line Producer...dan kelak, Director! (oohh yeah!)

Tapi bagi papa, perkerjaan ku tidak jelas karir nya...
Dan bagiku, papa tidak pernah benar-benar mengerti apa sebenarnya pekerjaanku..
Ketika aku menjadi Art Director di agency, ia tidak sepenuhnya paham apa yang aku lakukan...
Kini sebagai Line Producer, mungkin ia juga tidak mengerti apa sebenarnya pekerjaanku...
Tapi yang paling tidak pernah ia pahami adalah impianku...

Bukan...
Yang tidak pernah ia pahami adalah bagaimana memiliki sebuah impian...

Itu yang menyebabkan ia juga tak mengerti ketika adikku, monika keluar dari sebuat TV swasta terkenal dan lebih memilih menjadi penyiar baru (setelah melalui tahap seleksi yang jelimet) di sebuah radio anak muda terkenal, dengan jadwal siaran hanya 1 kali seminggu, hanya 1 jam, dari jam 5-6 pagi.
Bisa dipastikan, bayarannya pastinya amat-amat kecil.
Tapi aku tidak melihatnya sebagai akhir, justru sebagai awal, yang amat-amat bagus...
Karena aku tahu adikku itu seperti apa...She is the person that loves to be in the spotlight...
She is my dear drama queen... And I just know that this kinda job suits her....
And this is the beginning for her...

Dan bukankah ada hal yang harus dibayar ketika kita mengikuti impian kita?
Seringkali harus memulai dari awal, dari bawah...
Dan harus keluar dari zona nyaman...
Tak jarang banyak orang mempertanyakan pilihan kita...
Lebih sering menertawakan....

Tetapi papa tidak pernah memahami hal ini...
Karena ia tak percaya akan sebuah impian...
Baginya bekerja adalah mencari uang...
Baginya karir adalah ketika jabatanmu naik dan naik dan naik...
Berulang kali ia membujuk dan memaksa kami anak-anaknya untuk menjadi pegawai negri...
Aku tak pernah mau karena bagiku, itu bukan impianku...
Dan bagi papa, susah memahami ide enterpreneurship..
Pemusik, Penulis, Sutradara, Penari, Pembicara, baginya bukan perkerjaan, apalagi karir...
Dokter, Banker, Insinyur, Arsitek, Pejabat, Manager, itu adalah pekerjaan baginya, itulah karir...

Sedangkan bagiku, tidak semua orang dilahirkan untuk jadi dokter
Tidak semua orang dilahirkan untuk menjadi banker... (kemudian siapa yang akan menjadi nasabah?)

Sungguh tidak mudah lahir dan besar di sebuah keluarga dimana sang ayah tidak percaya akan sebuah impian dan sang ibu amat sangat pesimis...
Aku tumbuh menjadi pemberontak...
Aku ingat ketika SMA, aku bertengkar dengan mama, sampai menangis karena aku memilih masuk jurusan Bahasa dan mama khawatir dengan jurusan itu aku tidak bisa masuk LPK Tarakanita, untuk menjadi sekretaris...
Lulus SMA (Tarki) aku kembali bertengkar karena aku tidak mau menjadi sekretaris, aku memilih masuk DKV Trisakti...
Akhirnya mama menyerah dan memilih untuk menyerahkan keputusan di tanganku...dan semakin ke sini, ia semakin mendukungku...

Selalu ada kegelisahan di hatiku...
Kegelisahan itu seperti sebuah magma yang ingin meledak keluar...
Kegelisahan yang selalu berteriak: There's gotta be MORE than just this!
Kegelisahan yang membawaku berani memiliki impian...
Kegelisahan yang membuatku rela melalui jalanan berliku, menyusuri hutan gelap pencarian....

Don't get me wrong...
I don't hate my dad (anymore)...
Ika yang dulu mungkin akan marah ketika mendengar cerita itu tadi pagi...
Ika yang dulu mungkin akan sakit hati dan down...
Tapi aku seorang yang baru sekarang...
Aku memahami maksud papa...
Aku tahu dan percaya ia mengasihi aku dan adik-adikku dan hanya ingin yang terbaik bagi kami...
Dan terkadang, orang-orang mengasihi dengan cara yang hanya mereka tahu...

Yang membuat ku sedih hari ini,
Yang membuat hatiku hancur hari ini
Yang membuat kegelisahan ku memuncak hari ini...
Bukan air mata mama
Bukan pula perkataan papa...
Tapi sebuah kesadaran....
Betapa banyak orang tua seperti papa di luar sana,
dan betapa lebih banyak lagi anak-anak yang terpaksa harus mengikuti mau orang tua mereka?
Dan betapa banyak orang-orang dewasa yang menjalani kehidupan yang tidak mereka sukai?

Aku tidak mengajarkan orang menjadi pemberontak, sama sekali tidak!
Tapi aku mengajak orang-orang untuk sejenak berpikir dan bertanya pada diri mereka sendiri:
'Apa ini yang aku mau?'
'Am I living the live I wanna be?"
'Am I happy?'
'Do I have dreams?'
or ask this one:
'What do I want in this life?' karena banyak orang yang tidak bisa menjawab pertanyaan yang sederhana itu...

Apakah setiap hari engkau bangun pagi dengan semangat karena tak sabar ingin segera melakukan pekerjaan mu hari itu?
Atau engkau selalu menantikan Sabtu di hari Senin?

Apakah engkau memiliki the next big thing, hal besar yang akan kau lakukan,
ataukah selalu menantikan the next vacation? (I'm not against vacation or holiday, tapi jika setiap tahun itu adalah satu2nya hal yang kita nantikan, we need to ask ourselves the whys!)

Apakah hari-harimu adalah rutinitas yang membosankan dan mulutmu selalu mengeluh, tapi tanpa pernah melakukan apa-apa karena takut?

Apakah engkau bekerja hanya demi uang? (Yess, money is important, but it's not everything..) 
Ataukah kau bekerja karena joy dan passion?
Waiitt, do you know your passion?

Atau mungkin engkau tahu apa yang engkau mau, tapi terlalu takut...
Mungkin diam-diam, ada impian yang selalu kau pendam, yang selalu malu kau ungkapkan, tetapi setiap kali kau sendiri, impian itu selalu memanggilmu...? It could be your path...
Atau kau merasa tak ada orang yang mendukung mu? Tak ada yang percaya kau mampu dan karenanya impian itu kau kubur dalam-dalam?

Aku percaya, yang menaruh impian di hati seseorang itu Tuhan...
Ketika kita berusaha mewujudkannya, perlahan tapi pasti, kita memenuhi panggilan hidup kita...
Dan jika engkau merasa tak ada orang yang mendukungmu,
yakini satu hal, Dia yang menaruh impian itu di hatimu adalah yang paling mendukung mu..

Oh how I wish there are no more singers stuck in the dancer's shoes out there....
No more dancers pretend that they can sing...

Oh betapa aku berharap tulisanku kali ini dapat membuat yang membacanya merasakan kegelisahan...
Sungguh, aku berharap engkau gelisah dan mau bertanya pada dirimu sendiri pertanyaan-pertanyaan di atas!  Karena itu adalah sebuah awal, dari pencarian...
Dan pencarian itu tidak bisa diselesaikan dalam semalam...
Kegelisahan itu akan membawamu ke sebuah jalan yang tidak mulus...
Tidak pernah mudah...
Tapi engkau akan sampai ke sana, 
jika kau mengikuti impian mu...
Jika kau cukup berani...
Jika kamu mau berkorban...
Jika kau sadar, hidup ini lebih dari sekedar hidup!

Our lives are waiting for us!
So what the hell are we waiting for?

Let's get moving! 

May the FORCE be with you, friends!


And mama, I will shine!